«

»

Okt 01

Keutamaan Ilmu dan Ulama

PENGAJIAN HARI SABTU (JITU)
PUSAT PENDIDIKAN ISLAMI (PPI) AT-TAQWA
KERJASAMA DENGAN DKM MASJID JAMI’
BAITUL MUTTAQIN KOMPLEK MUARA BANDUNG
Jl. Kebon Kopi Gg. Famili No.198 Cibeureum – Cimahi Tlp (022) 6026559; 600 2345;
HP. 0815 609 6268 On-Air di TaQwa 107.8 Fm Radio Pendidikan Islami

Sabtu, 02 Robiul Awwal 1432 H / 05 Pebruari 2011 Pkl. 09.00 – 12.00 Wib,
Oleh : Ust. Asep Rohiddin ( Contak Person : 0815 609 62 68 )
Email: abu_miftah55@yahoo.co.id; Website: dmcimahi.com dan dmcimahi.com/wp/

KEUTAMAAN ILMU DAN ULAMA

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, semoga Allah merahmati beliau, mengumpulkan keutamaan ilmu ini ke dalam beberapa point :

1.      Ilmu agama merupakan warisan para nabi,

warisan yang lebih mulia dan berharga dari segala warisannya para nabi. Rasulullah telah bersabda:

فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى النُّجُوْمِ. اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، وَاْلأَنْبِيَاءُ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَاًرا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.) رواه الترمذي(.

“Keutamaan sesorang ‘alim (berilmu) atas seorang ‘abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambilnya (warisan ilmu) maka dia telah mengambil keuntungan yang banyak”’ (HR. Tirmidzi).

2.   Ilmu tetap akan kekal sekalipun pemiliknya telah diwafatkan oleh Allah, akan tetapi harta yang menjadi rebutan manusia itu pasti akan sirna.

Setiap kita, mengenal sosok Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, salah satu sahabat yang banyak meriwayatkan hadits Nabi yang mulia. Dari segi harta Abu Hurairah Radhiallaahu anhu memang termasuk kaum miskin, hartanya telah sirna, namun ilmunya tak pernah sirna. Kita semua masih tetap membaca hadits-hadits yang merupakan pilar sumber hukum Islam, yang diriwayatkan oleh beliau. Dan inilah buah yang ranum, sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah dalam hadits Rasul:

إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ؛ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُوْ لَهُ.

“Jika manusia mati terputuslah amalnya kecuali tiga: shadaqah jariyah, atau ilmu yang dia amalkan atau anak shalih yang mendoakannya.”

3.   Ilmu, sebanyak apapun jumlahnya tidak akan menyusahkan pemiliknya untuk menyimpan, tidak pula memerlukan gedung yang tinggi dan besar untuk meletakkannya.

Cukup disimpan dalam dada dan kepalanya, bahkan ilmu itu yang akan menjaga pemiliknya sehingga memberi rasa nyaman dan aman. Lain halnya dengan harta yang semakin bertumpuk, semakin susah pula untuk mencari tempat menyimpannya, belum lagi harus menjaganya dengan susah payah bahkan bisa menggelisahkan pemiliknya.

4.   Ilmu, bisa menghantarkan pemiliknya menjadi saksi atas kebenaran dan keesaan Alloh Swt.

Adakah yang lebih tinggi dari tingkatan ini? Inilah firman Allah Ta’ala:

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu[188] (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Ali ‘Imron,3:18)

[188] Ayat ini untuk menjelaskan martabat orang-orang berilmu.

Sedang pemilik harta? Harta sama sekali takkan menghantarkan pemiliknya sampai ke derajat seperti ilmu.

5.   Para ulama (ahli ilmu), termasuk golongan tertinggi di dunia ini,

Alloh Swt perintahkan supaya orang mentaatinya, tentunya selama tidak menganjurkan durhaka kepada Alloh Swt dan RasulNya, sebagaimana firmanNya:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kam…” (Q.S. an-Nisa,4:59)

Ulil Amri, menurut ulama adalah Umara’ dan Hukama’ (Ahli Hikmah/Ahli Ilmu/Ulama). Ulama memiliki kedudukan yang mulia, yaitu menjelaskan syariat Alloh Swt serta mengajak manusia ke jalan Alloh Swt. Umara’ memiliki kedudukan mengoperasionalkan jalannya syariat Allah dan mengharuskan manusia untuk menegakkannya.

6.  Para ulama, mereka itulah yang tetap tegar dalam mewujudkan syariat Allah hingga datangnya hari kiamat.

Rasulullah Saw  telah bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللهُ هُوَ الْمُعْطِيْ وَلاَ تَزَالُ هَذِهِ اْلأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ.

“Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka Allah akan fahamkan dia dalam (masalah) dien. Aku adalah Al-Qasim (yang membagi) sedang Allah Azza wa Jalla adalah yang Maha Memberi. Umat ini akan senantiasa tegak di atas perkara Allah, tidak akan memadharatkan kepada mereka, orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang putusan Allah.” (HR. Al-Bukhari)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>